Saturday, June 23, 2012

Sistem Mata Pencaharian Suku Lintang, Sumatera Selatan

Suku Melayu Lintang atau yang sering disebut Suku Lintang. “Suku Lintang terletak di kecamatan Muara Pinang dan kecamatan Pendopo, kabupaten Lahat, provinsi Sumatera Selatan” (Zulnani Hidayah.1997.157). Suku Lintang tinggal di kawasan pegunungan Bukit Barisan serta diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. Suku yang masyarakatnya banyak menganut agama Islam ini secara geografis, ada 4 pintu masuk menuju daerah mereka, yaitu: Muarapinang, Pendopo, Tebingtinggi dan Ulumusi. 
Dalam penulisan ini saya lebih terpusatkan pada sistem mata pencaharian masyarakat Suku Lintang. Karena dalam mata pencahariannya, yang dilakukan masyarakat suku Lintang adalah bertani kopi dan karet. Pohon yang jarang terdapat di pulau Jawa.

  • Mata pencaharian adalah pekerjaan yangmenjadi pokok penghidupan (sumbu atau pokok), pekerjaan atau pencaharian utama yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari.
  • Sistem mata pencaharian adalah cara yang dilakukan sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi pokok kehidupan baginya.
  • Bercocok tanam di ladang adalah kegiatan menanam tanaman yang terutama di daerah hutan rimba tropik atau juga di adaerah sabana tropok dan sub-tropik (Koentjaraningrat.1967.41).  

Keluarga suku Lintang menganut sistem patrilineal, yaitu: adat masyarakat yang mengatur alur ketururan berdasarkan dari pihak ayah. Di mana salah satu kebijakannya dalam melaksanakan tugas-tugas berat dan berhubungan dalam bertani dilakukan oleh pria. Para wanita tugas sehari-hari hanya mengurus anak-anak mereka dan berkutat dengan dapur. Namun tidak jarang para wanita juga ikut bekerja di ladang membantu suami mereka. terutama setiap musim tanam dan musim panen tiba. 

Suku Melayu Lintang atau Suku Lintang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka dengan berpusat pada kegiatan  bercocok tanam di ladang. Walaupun mereka tinggal di tepi sungai, namun mereka lebih cenderung memusatkan kegiatan mereka dengan mengolah ladang mereka (bertani).

Struktur tanah yang ada, pada lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus, dan permaeble, atau dengan kata lain tekstur tanahnya baik membuat para masyarakat suku Lintang memanfaatkannya untuk kegiatan bertani.

Dari struktur tanah tersebut maka banyak dari masyarakat suku Lintang yang bertani dan salah satu keistimewaannya adalah bertani kopi dan karet. 

Sumber:
Hidayat, Zulyani.1996.Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia.Jakarta: LP3ES
Koentjaraningrat.1967.Beberapa Pokok Antropologi Sosial.Jakarta: Dian Pustaka
18 Oktober 2011/18:00, Suku Lintang, http://sabda.org/misi/profilo_isi.php?id=39 


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment